Dikirim oleh agul di kategori Inspirasi
Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat. Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”. Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”. Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.” Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?” Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?” Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.” Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.
Baca selengkapnya… »
Dikirim oleh agul di kategori Hiburan, Sejarah

Prediksi tidak akan selalu terbukti. Bahkan prediksi yang dilakukan oleh para ahlinya.
Berikut ini kesalahan prediksi yang terkenal karena diprediksi oleh para ahli dan orang-orang ternama:
Secara teori, televisi mungkin layak, tapi saya pertimbangkan itu sebagai suatu yang tidak mungkin — sebuah pengembangan yang membuang-buang waktu.
(Lee De Forest, 1926, penemu dari tabung sinar katoda)
Catatan: TV saat ini telah ada hampir di tiap rumah.
Saya rasa ada pasar di dunia untuk sekitar lima komputer.
(Thomas J. Watson, 1943, Ketua Dewan IBM)
Catatan: Saat ini, sejumlah komputer itu hanya dapat dipakai untuk warnet kecil saja.
Apapun yang ia lakukan, ia tidak akan pernah mencapai apa-apa.
(Guru Albert Einstein kepada ayahnya, 1895)
Catatan: Sebagaimana kita tahu, Albert Einstein adalah penemu teori Relativitas yang terkenal.
Butuh waktu bertahun-tahun, bukan pada masa saya, sebelum seorang perempuan akan menjadi Perdana Menteri.
(Margaret Thatcher, 1974)
Catatan: Margaret Thatcher adalah Mantan Perdana Menteri Perempuan Inggris
Baca selengkapnya… »
Dikirim oleh agul di kategori Inspirasi
Mencapai hidup yang bahagia sebenarnya tidak sulit. Kebahagiaan sebenarnya bersumber di dalam diri kita, bukan di luar sana. Untuk mencapai kebahagiaan, kita cuma perlu menyelami diri kita sendiri. Menelusuri hati dan paradigma kita sendiri.
Ada lima hal yang sering menyebabkan kita tak bahagia:
Pertama,
adanya keyakinan bahwa Anda tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang Anda pandang bernilai. Anda sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi Anda masih merasa kurang. Anda merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya. Pikiran Anda dipenuhi oleh benda-benda yang Anda kira dapat membahagiakan Anda. Padahal, Anda tidak bahagia karena lebih memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang tidak Anda miliki, dan bukannya pada apa yang Anda miliki sekarang.
Baca selengkapnya… »
oleh Adian Husaini, M.A
Salah satu masalah pelik yang dihadapi dunia internasional saat ini adalah masalah Palestina dan Israel. Mahathir Muhammad, mantan perdana menteri Malaysia, pernah menyatakan bahwa Palestina adalah kunci peradaban dunia. Negara Israel saat ini adalah buah dari perjuangan idiologi yang disebut sebagai “Zionisme”. Sukses Zionisme adalah buah persekutuan–lebih tepat disebut sebagai perselingkuhan–antara kaum Zionisme Yahudi dengan imperialisme Barat. Zionisme bisa dikatakan satu idiologi sekular yang sangat dramatis dan sukses mencapai tujuannya pada abad ke-20. Berangkat dari rumusan sederhana terhadap kondisi riil fenomena “anti-semitism” (lebih tepat: Anti-Jews) di Eropa. Idiologi ini disusun dengan sasaran jelas: membentuk sebuah negara Yahudi. Dalam tempo 50 tahun sejak Kongres Zionis pertama, tahun 1897, negara Yahudi–yang diberi nama Israel–itu berdiri pada 14 Mei 1948.
Dalam pandangan Yahudi, istilah Zionisme dinisbahkan kepada sebuah bukit bernama Zion di Jerusalem. Istilah itu kemudian identik dengan Jerusalem itu sendiri. Bagi Yahudi, istilah Zion memang mengandung makna religius, dan memiliki akar sejarah yang panjang. Di sinilah nanti terlihat bagaimana lihainya kaum Zionis yang sebenarnya sekular menggunakan istilah “Zionisme” untuk menamai gerakan mereka, sehingga mampu menarik banyak dukungan orang Yahudi.
Baca selengkapnya… »

Sebagai orang beriman, ada ketentuan yang harus diikuti dalam menyembelih hewan ternak. Di antaranya adalah Hadits Rasulullah saw yang bermakna: “Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya.” (H.R. Muslim).
Kandungan hadits ini agaknya “sulit” untuk dijelaskan kepada orang non-Muslim. Betapa tidak, di dalamnya terdapat ungkapan kata seakan-akan Allah memerintahkan kita untuk “membunuh”. Apalagi secara eksplisit disebutkan pengertian ”…tajamkanlah pisaunya…!” Bukankah ini menunjukkan bahwa umat Islam memang disuruh dan dilatih untuk membunuh dengan “kejam”. Namun terdapat pula ungkapan yang mungkin dianggap aneh: “…meringankan binatang yang disembelih…” (Apakah tidak aneh, membunuh kok menggunakan ungkapan kata basa-basi: “…meringankan binatang yang disembelih…” Padahal jelas, disembelih itu ‘kan tentu menimbulkan rasa sakit yang sangat, bahkan sampai menyebakan kematian!).
Bagi kita, umat Islam, apa pun haditsnya, isinya, dan konteksnya, yang jelas itu adalah sebuah riwayat yang shahih, oleh Imam Muslim. Seorang ulama hadits yang telah teruji kebenarannya. Dan sebagai umat Islam, kita tentu meyakini bahwa Syariat Islam, seperti yang terkandung dalam hadits tersebut, adalah syariat yang “ya’lu wa laa yu’la ‘alayhi” (yang terbaik serta paling tinggi, dan tidak ada yang dapat menandingi keunggulannya).
Baca selengkapnya… »
Oleh Dewi Utama Faizah
Anak-anak yang digegas
Menjadi cepat mekar
Cepat matang
Cepat layu…
Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahanyang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa.. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua … Captive market!
Baca selengkapnya… »
Joko: Ndro, tau gak loe tanggal 28 Oktober tuh diperingati sebagai hari apa?
Hendro: Mene ketehe’. Tergantung harinya lah, minggu ato senen. Emangnya tanggal segitu hari apa?
Joko: Wah parah loe…Tanggal 28 Oktober tuh Hari Sumpah Pemuda. Gitu aja kagak tau loe. You suck, man!
Hendro: Sumpe loe?!?
Joko: It’s not Sumpe Loe, but Sumpah Pemuda!
Terlepas dari benar-benar terjadi atau tidaknya percakapan di atas, tapi itulah gambaran kasar percakapan generasi Milenium kita, meski nama mereka lebih mencerminkan nama-nama generasi X. Pertanyaannya memang bisa jadi, “Apakah Sumpah Pemuda masih relevan di era globalisasi sekarang ini?”. Saat ini bahasa Inggris sudah seperti Bic Mac dkk (hamburger) yang yang dulunya dianggap makanan mewah namun sekarang sudah hampir sekelas bakso urat. Atau malah lebih enak bakso urat ketimbang burger-burger bermacam nama yang bahkan sudah dijual di pinggir jalan itu. Begitu juga bahasa Inggris, meski masih mahal untuk ikut kursusnya, tapi kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi hal yang menakjubkan dibanding beberapa dekade ke belakang.
Baca selengkapnya… »
Dikirim oleh agul di kategori Bisnis, Ekonomi
(Krisis Kredit Perumahan / Subprime Mortgage di Amerika Serikat)
Oleh Dahlan Iskan
Seberapa besarkah krisis keuangan di Amerika itu sehingga negara tersebut sampai harus ”musyrik” dari agama kapitalisme dengan cara menyuntikkan dana negara USD 700 miliar? Bahkan sampai mau menelan ludah sendiri dengan cara melakukan ”nasionalisasi”?
Memang sangat serius. Apalagi kalau kita menyaksikan siaran televisi CNN, CNBC, atau Bloomberg. Kalutnya bukan main. Bahkan belum diketahui pasti besarnya kerugian yang harus dihadapi. Ada pengamat yang sampai mengistilahkan bahwa AS seperti sedang menghadapi perjudian sebesar USD 60 triliun. Tentu ada juga yang hanya menghitung semua kehebohan itu menyangkut USD 5 triliun. Pokoknya sangat besar, untuk ukuran AS sekalipun.
Baca selengkapnya… »
Dikirim oleh agul di kategori Bisnis, Ekonomi
(Krisis Kredit Perumahan / Subprime Mortgage di Amerika Serikat)
Oleh: Dahlan Iskan
Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ”menceritakan” secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Baca selengkapnya… »
Dikirim oleh agul di kategori Agama, Budaya
Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman.
Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab ‘halal’ yang diapit dengan satu kata penghubung ‘ba’ (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, namun masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara.
Baca selengkapnya… »