payday loans
Oct
26

Sumpah Pemuda di Era Globalisasi

Dikirim oleh agul di kategori Budaya, Politik, Sejarah

Joko: Ndro, tau gak loe tanggal 28 Oktober tuh diperingati sebagai hari apa?

Hendro: Mene ketehe’. Tergantung harinya lah, minggu ato senen. Emangnya tanggal segitu hari apa?

Joko: Wah parah loe…Tanggal 28 Oktober tuh Hari Sumpah Pemuda. Gitu aja kagak tau loe. You suck, man!

Hendro: Sumpe loe?!?

Joko: It’s not Sumpe Loe, but Sumpah Pemuda!

Terlepas dari benar-benar terjadi atau tidaknya percakapan di atas, tapi itulah gambaran kasar percakapan generasi Milenium kita, meski nama mereka lebih mencerminkan nama-nama generasi X. Pertanyaannya memang bisa jadi, “Apakah Sumpah Pemuda masih relevan di era globalisasi sekarang ini?”. Saat ini bahasa Inggris sudah seperti Bic Mac dkk (hamburger) yang yang dulunya dianggap makanan mewah namun sekarang sudah hampir sekelas bakso urat. Atau malah lebih enak bakso urat ketimbang burger-burger bermacam nama yang bahkan sudah dijual di pinggir jalan itu. Begitu juga bahasa Inggris, meski masih mahal untuk ikut kursusnya, tapi kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi hal yang menakjubkan dibanding beberapa dekade ke belakang.

Lihat saja, lagu-lagu Indonesia sudah banyak yang berlirik bahasa Inggris, dialog-dialog di sinetron dan film memakai selipan bahasa Inggris, ngobrol dengan teman memakai bahasa Inggris, bahkan memesan kopi di angkringan Jogja pun sudah bisa memakai bahasa Inggris, “Pak Jo, black coffee, please!“. Memang bukan hal salah dan buruk bila bahasa Inggris merasuki kehidupan sehari-hari kita, justru itu membuatnya semakin berwarna. Tetapi penggunaannya juga harus disesuaikan dengan waktu, tempat, dan tujuan. Di kelas, memang tempatnya. Di kantor, urusan bisnis. Di kelompok belajar, untuk belajar.

Lalu bagaimana dengan para pemuda jaman perjuangan dulu yang mengambil sumpahnya tanpa persetujuan kita yang semakin hari semakin tidak tahu (dan tidak mau memakai) bahasa Indonesia yang baik dan benar? Meski demikian, sumpah itu bukan tanpa tujuan. Mereka tentunya juga telah mengkalkulasi hal yang terjadi di masa ini. Justru karena itulah mereka bersumpah bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan kita. Bahasa yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Bahasa yang bisa menunjukkan kebanggaan kita. Karena memang dari bahasa lah sebuah eksistensi sebuah bangsa dapat terlihat. Demikianlah sebuah sumpah tentang nasionalisme.

Di saat kita prihatin dengan bahasa Inggris yang sudah mulai menggeser posisi bahasa Indonesia, ada saja yang ikut memperparah keadaan. Ya, apalagi kalau bukan bahasa gaul? Bahasa yang entah datang dari mana ini menjadi suatu imej baru bagi mereka yang ingin dicap gaul. Sedangkan gaul sendiri entah apa artinya. Kata secara digunakan tidak pada tempatnya dengan sengaja, ’saya’ dirubah menjadi akika atau eike, belum lagi mene ketehe’, bo’, sumpe lo, dan istilah-istilah lain yang entah diciptakan siapa. Tapi memang harus diakui bahwa istilah-istilah gaul ini cukup ampuh sebagai tagline iklan-iklan komersil. Dan sebenarnya saya pun termasuk salah satu yang terjangkit gaulisme ini dengan ikut-ikutan memakai istilah yang hanya dimengerti sejumput orang tertentu, seperti cenger dan ciplokanong. Entah apa artinya.

Sekarang coba bayangkan bila dalam beberapa tahun ke depan semua orang berbicara dalam bahasa Inggris yang dicampur bahasa gaul dan bahasa Indonesia menjadi suatu hal yang langka di kalangan anak muda. Lantas di mana identitas sebagai bangsa Indonesia? Ingin seperti negara Commonwealth, tidak bisa karena tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Inggris. Mengaku sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat dan mempunyai rasa nasionalisme tinggi juga bukan, karena semakin sedikit orang yang bangga berbahasa Indonesia. Lalu apakah kita harus menjadi Negara Gaul?

Belajar bahasa Inggris itu baik. Kita tidak mau tertinggal di jaman yang semakin cepat ini kan? Kalau orang lain bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan kita tidak mengerti, hal ini juga berarti kerugian kita tidak bisa menangkap informasi. Bahkan sekarang bukan hanya bahasa Inggris saja yang populer melainkan juga bahasa Perancis, Spanyol, Cina (Mandarin), Jepang, Korea, dan Arab. Sebagai sebuah bangsa yang ingin maju kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan. Namun bukan berarti kita meninggalkan identitas kita. Pelajarilah bahasa apapun. Belajarlah bahasa Inggris, Perancis, Cina dan sebagainya untuk kebaikan bangsa ini. Dengan mengerti bahasa asing diharapkan kita bisa menyerap ilmu-ilmu yang mereka miliki, lalu mengajarkan ilmu itu pada orang lain sehingga menjadi sebuah kebaikan dan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Kita belajar bahasa Inggris adalah untuk bisa membaca buku-buku dalam bahasa Inggris, berkomunikasi dengan orang yang berbahasa Inggris, menonton berita berbahasa Inggris, dan dan hal-hal lain yang bertujuan untuk membuat kita mampu menangkap informasi lebih. Kita belajar bahasa Inggris bukan untuk menjadi orang Inggris.

Sumber: Ian

« «
» »


Ada 4 komentar:

  1. Komentar suwung pada Oktober 28th, 2008 at 17:10

    jadi inget guru sejarah

  2. Komentar dadang pada Nopember 3rd, 2008 at 13:13

    sekarng malu kah kita dengan keadaan yang saat ini berada di kehidupan sekeliling kita…………

    sadar dunk ……….
    mana sumpah yang dulu pernah diperjuanakan oleh para pahlawan kita…..

  3. Komentar fahmi 13 pada April 24th, 2009 at 10:17

    untuk suwung :
    mengapa anda menggunakan bahasa yang tidak baku, yaitu inget, seharusnya adalah ingat.

    untuk dadang :
    mengapa anda juga menggunakan bahasa yang tidak baku yaitu dunk, padahal anda menyeru kepada dunk, dalam hal ini orang yang membaca blog ini untuk sadar, tetapi anda sendiri tidak bercermin dan tidak mengoreksi apa yang telah anda ketik,

  4. Komentar yurikhe pada Oktober 5th, 2009 at 15:11

    kaLo bza tlong buatin jga dund sumPah pemuda daLam bahasa korea ato bahasa asing lainnya
    mkasih=)

Komentari

Komentar Anda: