payday loans
Apr
29

Pelupa atau Pemaaf

Dikirim oleh agul di kategori Inspirasi, Politik, Sejarah

Oleh Walton C. Lee

Dinasti Han Timur (25-220M)

Untuk merenggut kekuasaan yang absolut, seorang tuan atau raja yang ambisius akan membesar-besarkan perselisihan sepele dengan pemerintah kerajaan sebagai alasan untuk pergi perang, dan sesudah kemenangan beberapa pertempuran, ia menggantikan kaisar yang lemah. Untuk memperkuat usahanya ini, tuan yang berkhianat itu bersahabat dengan menteri-menteri yang ambisius yang bekerja di istana kekaisaran, dan mendapatkan bocoran informasi dari mereka. Untuk mengamankan posisi mereka sendiri di kemudian hari, menteri-menteri yang ambisius ini akan bekerja sama dengan tuan yang haus kekuasaan. Tetapi jika pemberontakan itu gagal, banyak pejabat tingkat tinggi yang mengabdi kepada sang kaisar akan ditawan dan dihukum penggal akibat ketidaksetiaan mereka. Sebuah kisah yang serupa terjadi di awal abad pertama.

Setelah banyak peperangan berdarah, sebuah pemberontakan sepenuhnya digagalkan. Di markas pemimpin pemberontak, para pengawal kerajaan menemukan beberapa peti berisi ribuan surat yang membeberkan informasi rahasia kerajaan. Banyak nama politikus terkenal tertulis dalam amplop-amplop itu. Jika diberitahukan secara umum, integritas dan loyalitas mereka akan dipertaruhkan. Pembersihan politik yang haus darah tidak dapat dihindari. Sambil menatap surat-surat itu selama beberapa detik, para prajurit itu terkejut. Setelah menutup peti-peti itu dan menyegelnya dengan label resmi, mereka dengan gugup melaporkan apa yang telah mereka temukan dan menunjukan kepada Kaisar Han-Kuan-Wu.

Setelah menerima peti-peti yang disegel itu, yang menjadi bukti kuat ketidaksetiaan, sang kaisar membiarkannya tertutup dan segera mengumpulkan semua pejabatnya di singgasana istana. Sesudah secara singkat namun hangat meminta maaf atas pertemuan mendadak ini, penguasa itu berkata kepada pada pejabatnya.

“Tuan-tuan, kita semua harus menenangkan diri dan bersukacita. Kita telah sepenuhnya menghancurkan pemberontakan. Namun, secara kebetulan, aku menyadari bahwa beberapa di antara kamu tampak letih dan kurang istirahat. Semula aku amat keheranan dan terus-menerus bertanya kepada diriku sendiri. ‘Mengapa? Apa yang merisaukan mereka? Mereka seharusnya lebih daripada senang karena berbagi kemenangan bersama saya.’ Sekarang, akhirnya aku tahu penyebabnya. Inilah obatnya.”

Dia memerintahkan orang-orang kasimnya untuk mengeluarkan peti-peti itu dan meletakkannya terbuka di halaman depan istana. Sebagian besar pejabat tercengang, banyak yang nyaris pingsan, dan tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Tetapi yang lebih mengejutkan, sang Kaisar memerintahkan para pengawalnya untuk membakar surat-surat itu. Hal ini merupakan pengampunan yang murah hati bagi mereka yang telah bersekongkol. Semua politikus, baik yang terlibat maupun yang tidak, merasa amat lega. Dalam pikiran mereka, mereka tidak lagi ragu; tidak akan ada lagi pembersihan politik yang brutal dan mengerikan, yang sering menimpa orang-orang yang tidak bersalah juga.

Sesudah peristiwa tesebut, menteri-menteri itu dengan sepenuh hati menghargai kemurahhatian tuan mereka. Mereka menghormatinya lebih daripada sebelumnya. Karena kemurahannya, yang menyelamatkan banyak nyawa dan mencegah pergolakan politik yang memakan banyak biaya dan menumbulkan bencana, Kaisar yang berwawasan luas dan berpandangan jauh itu seketika menarik simpati banyak bawahan yang setia, yang sebelumnya adalah musuh dalam selimut.

Sebuah kejadian lain yang serupa terjadi di akhir abad ke lima, semasa pemerintahan Dinasti-dinasti Selatan. Sesudah pertempuran yang brutal dan kritis antara pengawal-pengawal kekaisaran dan para pemberontak tepat di luar ibukota, tersebar sebuah kabar burung aneh yang menyatakan bahwa pasukan pemberontak telah memenangkan peperangan itu dan sedang menuju ke kota. Orang-orang ketakutan. Banyak pejabat tingkat tinggi dan orang kaya secara sembunyi-sembunyi menyelinap ke luar kota di kegelapan malam dan mengunjungi datasemen yang sedang merayakan kemenangan. Untuk menyelamatkan hidup mereka dan mengamankan masa depan mereka bersama para pemberontak itu, mereka membawa uang, bahan makanan, dan ternak, dan dengan ramah mempersembahkannya, disertai kartu-kartu bisnis, kepada prajurit-prajurit itu. Para kapten menerima semua hadiah dan kartu bisnis yang telah dipersiapkan dengan baik itu sebagai bukti penghianatan, dan segera menyerahkannya ke markas. Berjam-jam kemudian, ribuan tentara yang kelelahan memasuki kota dan kembali ke barak-barak mereka.

Pagi harinya, banyak orang yang diserang rasa khawatir dikumpulkan di pusat perdagangan paling terkenal. Sesudah menaiki salah satu menara jam kota itu, Hsiao-Dau-Chen, seorang jenderal senior dari tentara nasional, dengan bangga mengumumkan kemenangan mereka kepada penduduk yang gelisah, beberapa dari mereka lebih kaget daripada senang.

“Ngomong-ngomong,” jenderal itu dengan tenang menambahkan, “Semalam pengawal-pengawal depan saya menerima sejumlah besar sumbangan yang salah alamat dan ratusan kartu-kartu bisnis. Persembahan itu ditujukan kepada musuh. Karena musuh kita telah kalah dan melarikan diri, kita menyimpannya dan menikmati persembahan-persembahan itu untuk kami sendiri. Mengenai potongan-potongan kertas itu, tidak ada artinya bagiku. Aku akan membakarnya semua sekarang juga.”

Bahkan tanpa melihat penduduk yang terkesan itu, ia memerintahkan perwira-perwira pembantunya untuk membuat api kecil dan melemparkan surat-surat itu ke dalamnya. Orang-orang yang menyaksikan dengan cemas benar-benar menghargai kebijaksanaannya dan mengelu-elukan namanya dengan rasa hormat.

Tujuan utama dari kedua pemimpin itu adalah untuk mempertahankan kekuasaan, dan membangun sebuah kekaisaran yang kuat dan tenteram bagi diri mereka dan keturunan mereka. Hal ini membutuhkan perhatian sepenuhnya dari para pejabatnya dan kesetiaan mutlak mereka. Sebuah pembersihan politik yang menimbulkan bencana tidak akan mendukung bertahan lamanya suatu kemenangan. Melihat hal ini, setiap pemimpin dengan murah hati memaafkan saingan-saingan mereka, yang pada gilirannya akan bekerja lebih keras untuk membalasnya.

-=0=-

« «


Komentari

Komentar Anda: